7 Tips Gaya Hidup Digital Minimalism, Bikin Harimu Kian Tenteram

#IDNTimesLife Waktunya kamu puasa media sosial



ilustrasi orang menggunakan media digital (pexels.com/Mikael Blomkvist)


Penyebaran arus informasi mengalami peningkatan pesat seiring munculnya media digital. Sayangnya, gak setiap orang punya saringan mumpuni buat memilah informasi bermanfaat buat dirinya. Alhasil, beberapa justru mengalami dampak buruk yang berimbas pada kesehatan fisik maupun mental.

Cal Newport dalam bukunya yang berjudul Digital Minimalism: Choosing a Focused Life in A Noisy World memperkenalkan digital minimalism sebagai filosofi penggunaan teknologi digital secara online melalui sedikit aktivitas dengan manfaat optimal.

Pengin tahu apa aja yang bisa kamu terapkan buat jadi warga digital dengan gaya minimalis ini? Berikut tujuh tips digital minimalism yang bikin hidup kian tenteram. Yuk, intip!


1. Cermati manfaat gawai dan aplikasi di dalamnya


ilutrasi aplikasi dalam ponsel (pexels.com/Photomix Company)


Sebagian besar dari kamu, mungkin memiliki gawai disertai aplikasi di dalamnya. Perlu kamu ingat, apakah memang gawai merupakan kebutuhanmu saat ini. Apabila iya, penting untuk mengelola penggunaannya. Terutama aplikasi yang ada di dalamnya.

Aplikasi dalam gawai perlu dipilah sesuai porsi dan kebutuhan. Langkah awal yang bisa diterapkan dalam digital minimalism adalah menghapus aplikasi yang tidak penting atau sekiranya tidak difungsikan. Aplikasi yang tidak penting dalam artian dapat membuatmu terdistraksi untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan berakibat negatif dalam kehidupan.


2. Puasa media sosial atau tinggalkan sejenak gawaimu


ilustrasi pria memegang ponsel (unsplash.com/Christopher Ott)


Tiap kali kamu telah usai memakai gawai buat urusan penting, saatnya kamu melatih diri dengan menutup aplikasi secara berkala. Ini dimaksudkan supaya kamu gak selalu terpusat pada penggunaan ponsel atau media sosial.

Kamu juga bisa menantang dirimu dengan membatasi akses media sosial, lho. Misalnya, kamu hanya memakai media sosial untuk keperluan pekerjaan atau membuka aplikasi pada jam-jam tertentu.

Dengan begitu, kamu gak kecanduan bercengkerama di dunia maya dan justru terbiasa ketika harus puasa Instagram, Twitter, atau media sosial lain. Kalau sudah terbiasa, kamu bakal lebih mudah menentukan prioritas dan memanfaatkan gawai dengan cara yang tepat.


3. Waktu ideal mengonsumsi media sosial


ilustrasi menggunakan media digital di siang hari (pexels.com/Vlada Karpovich)


Media sosial biasanya diperlukan dalam mengakses informasi terkait pendidikan, pekerjaan, hiburan, dan sebagainya. Seringnya, orang tanpa sadar mengonsumsi media sosial yang berlarut-larut--menghadap layar gawai hingga lupa waktu.

Perlu diingat, kebiasaan seperti itu dapat membuatmu semakin dekat dengan dampak buruk. Jadi, kamu harus membatasi dalam mengonsumsi media sosial. Kamu bisa melakukannya dengan memberi waktu maksimal dalam penggunaannya, lho.

Misalkan, dalam mengonsumsi media sosial dilakukan pada waktu siang hari, dalam kurun waktu satu jam saja di setiap harinya. Waktu tersebut bisa berubah, kurang atau lebih sedikit, sesuai dengan kebutuhanmu, ya.



4. Memilih konten yang bermanfaat sesuai minat


ilustrasi konten youtube (unsplash.com/Nordwood Themes)


Pemilihan konten dalam media sosial yang akan dilihat juga perlu diperhatikan dalam gaya hidup digital minimalism. Karena apa yang dilihat, didengar, dan dicermati dapat menentukan sikap dan kebiasaan kita dalam kehidupan sehari-hari.

Pemilahan konten yang dikonsumsi dapat dilakukan sesuai dengan minat kamu. Apabila kamu menyukai konten inspiratif, kamu bisa mengikuti berbagai konten inspiratif. Kamu juga berhak untuk unfollow channel atau konten non inspiratif yang tidak sesuai dengan kebutuhanmu.

Namun, hal itu bukan berarti kamu tidak membutuhkan konten hiburan. Kamu juga berhak untuk mengikuti berbagai konten lainnya yang sesuai dengan ketertarikan atau minat dan kiranya bermanfaat di kehidupanmu.


5. Batasi pertemanan dalam media sosial


ilustrasi aktivitas berteman di media sosial (pexels.com/Cristian Dina)


Sebagai makhluk sosial, selayaknya memperbanyak dan menjaga hubungan pertemanan. Kita boleh berteman dengan siapa pun tanpa membedakan, dan di mana pun termasuk di media sosial. Namun, pertemanan dalam media sosial yang tak terbatas, juga perlu dibatasi agar terhindar dari dampak buruk tidak diharapkan.

Dalam media sosial, tentu kamu kerap menemui beragam teman maya, atau akun-akun yang menunjukkan segala sisi yang dimiliki. Misalkan, banyak yang menunjukkan gaya hidup serba punya, yang cenderung show off, konsumtif, hedon, dan bahkan menjadi haters. Faktanya, akun seperti itu dapat mempengaruhimu, dan bahkan terdorong untuk menirunya.

Untuk itu, kamu perlu menghindari berbagai dampak buruk tersebut, dengan menjaga dan membatasi pertemanan dalam media sosial sebagai langkah digital minimalism yang baik.


6. Alihkan aktivitas media sosial ke aktivitas offline


ilustrasi menulis (pexels.com/RF._studio)


Seringnya beraktivitas di media sosial, kadang membuat lupa akan kehidupan nyata dalam lingkungan sekitar. Perlu diingat, kehidupan media sosial tidak selalu menjamin pengetahun dan pengalamanmu bertambah. Kamu perlu upgrade kualitas hidup dengan pengembangan diri secara langsung.

Ketika ada waktu luang, kamu bisa manfaatkan beraktivitas offline. Tingkatkan pengetahuan dengan belajar, membaca buku, menulis, fotografi, bermusik, olahraga, dan berbagai aktivitas lainnya.

Selain itu, kamu juga bisa tingkatkan pengalamanmu dengan terus berlatih sesuai minat dan bakat, atau mengikuti organisasi dan komunitas tertentu. Dengan memperbanyak aktivitas offline yang bermanfaat, kualitas pengetahuan dan keterampilanmu bakal meningkat lebih jauh, lho.


7. Meluangkan waktu untuk diri sendiri maupun keluarga


ilustrasi keluarga berkumpul (pexels.com/August de Richelieu)


Saat menggunakan media digital, kadang menjadi lupa untuk mengistirahatkan dirinya. Padahal kamu perlu menjaga kesehatan diri dengan refresh pikiran dan tubuhmu. Pikiran sangat penting untuk dijaga, agar selalu jernih, dan mentalmu selalu sehat. Sedangkan, tubuh juga penting untuk dijaga, agar aktivitasmu tidak terganggu karena kemungkinan kondisi yang melemah.

Selain lupa dengan kondisi sendiri, kemungkinan juga abai terhadap anggota keluarga yang berada di sekitar. Tidak hanya berlarut dalam dunia digital, kamu juga harus meluangkan waktu dengan keluarga. Minimal berkumpul bersama, saling berbagi kabar dan cerita, atau mendiskusikan suatu hal yang penting untuk dibahas dalam keluarga.


Penerapan digital minimalism ternyata berdampak positif dalam berbagai aspek kehidupan. Gaya minimalis dalam dunia digital ini bakal bantu kamu buat hidup damai dengan notifikasi yang minim dari ponsel. Silakan tulis di kolom komentar bila artikel ini bermanfaat, ya!


Sri Damiyati (Disabilitas Fisik/Peserta TIKO “IDN Times Writing Academy”)