Braille: Akses Informasi untuk Disabilitas Netra



Disabilitas Netra merupakan salah satu ragam dari Disabilitas sensorik atau individu yang mengalami gangguan pada keterbatasan penglihatan. Meskipun dengan keterbatasan penglihatan, Disabilitas Netra mengalami hambatan dalam menerima berbagai informasi, baik informasi dalam bentuk visual maupun informasi dalam bentuk tulisan. Disabilitas Netra selalu mengandalkan indera lain seperti indera pendengaran, penciuman, dan perabaan untuk kemudahan dalam menerima informasi. Salah satu akses informasi yang harus Teman Inklusi ketahui untuk memudahkan Disabilitas Netra dalam menerima informasi adalah Braille. Tahukah Teman Inklusi, apa itu Braille? Bagaimana sejarah adanya Braille?

Braille adalah sistem tulisan dan cetakan yang digunakan oleh Disabilitas Netra, berupa kode yang terdiri atas enam titik dalam berbagai kombinasi yang ditonjolkan pada kertas sehingga dapat diraba.

Braille pertama kali diciptakan oleh seorang Disabilitas Netra berkebangsaan Perancis, yang bernama Louis Braille yang lahir pada tanggal 4 Januari 1809. Awalnya Louis Braille mampu melihat dengan baik, namun ia mengalami kecelakaan di usia ke-3 tahun sehingga kedua matanya tidak bisa melihat secara permanen.

Selama perjalanan hidupnya menjadi Disabilitas Netra, Louis Braille ternyata mampu mengatasi hambatan penglihatan yang terjadi padanya, ia berhasil melakukan penemuan yang bermanfaat untuk para penyandang Disabilitas Netra di seluruh dunia. Penemuan itu adalah sistem tulisan huruf Braille. Sebelum Louis Braille melakukan penemuannya, ia belajar dari tentara Napoleon, Kapten Charles Barbier yang menggunakan sandi berupa garis-garis dan titik-titik timbul untuk memberikan informasi atau perintah dalam kondisi gelap atau yang dikenal dengan tulisan malam night writing.

Pada tahun 1851, tulisan Braille diakui secara sah oleh pemerintah Perancis, Sejak saat itu, penggunaan huruf Braille semakin berkembang dengan pesat sehingga menjangkau negara-negara lain. Pada akhir abad ke-19, Braille diakui secara universal dengan diberi nama “tulisan Braille” dan diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1902 melalui Blinden Institut di Bandung yang didirikan oleh Dr. Westhoff.