Digital Skills Gap dan Tantangannya



Teman Inklusi pernahkah mendengar istilah digital skills gap? Digital skills gap adalah keterampilan yang dimiliki oleh individu di segala bidang digital. Beberapa negara-negara di seluruh dunia, termasuk negara-negara yang memiliki kemajuan dalam teknologi di dunia seperti Amerika Serikat (AS), sedang mengembangkan keterampilan digital untuk individu di negaranya.


Menurut digitalskillsglobal.com, ada dua faktor utama dalam kesenjangan keterampilan digital (digital skill gap) yang mempengaruhi berbagai sektor dan ekonomi. Faktor pertama adalah rendahnya keterampilan digital di antara tenaga kerja yang ada. Faktor kedua adalah kurangnya lulusan yang terlatih untuk mengisi keterampilan digital di perusahaan atau organisasi yang sedang berkembang.


Di era digital, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan digital skills gap. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G. Plate dalam acara peresmiaan pembukaan Onlince Academy (OA) Angkatan 2 Digital Talent Scholarship 2020, Senin, 15 Juni 2020 lalu.


Dilansir dari biskom.web.id, menurut Johnny G. Plate, Indonesia masih menghadapi tantangan digital skills gap, seperti salah satunya adalah kebutuhan tenaga kerja di bidang digital yang masih belum terpenuhi. Hal tersebut, berdasarkan data dari Bank Dunia tahun 2016, yang mencatat bahwa Indonesia mengalami kekurangan tenaga kerja semi terampil dan terampil sebesar 9 juta orang dalam 15 tahun. Artinya, Indonesia harus menciptakan tenaga kerja digital sejumlah 600.000 orang setiap tahun.


Rendahnya keterampilan digital merupakan tantangan yang harus di hadapi oleh negara-negara di dunia dalam menghadapi era digital di revolusi industri 4.0. Banyak perusahaan atau organisasi memanfaatkan tenaga kerja di bidang digital untuk memudahkan segala aktivitas atau kegiatan yang dilakukan perusahaan atau organisasi dalam kehidupan sehari-hari, demi mencapai target perusahaan/organisasi yang memanfaatkan tenaga kerja digital.


Menurut Menkominfo, Indonesia membutuhkan berbagai talenta digital di revolusi industri 4.0 seperti keterampilan teknis (hard skills) misalnya Big Data Analytics, Artificial Intelligence, Cybersecurity, Cloud, Computing, Internet of Things, Machine Learning, dan sebagainya. Selain itu, keterampilan nonteknis (soft skills), misalnya 4C yaitu, Critical Thinking (berpikir kritis), Creativity (kreatif), Collaboration (kolaborasi), dan Communication (Komunikasi).


Beberapa contoh keterampilan digital yang dibutuhkan oleh perusahaan atau organisasi seperti keterampilan soft skills (keterampilan nonteknis) dan keterampilan hard skills (keterampilan teknis) yang pernah dibahas dalam kelas pengembangan diri Disabilitas TIKO (Teman Inklusi Klobility) sudah tayang di artikel https://www.klobility.id/post/trend-pekerjaan-di-era-digital-pekerjaan-digital-dan-pekerjaan-nondigital (RYR)

Sumber:

1. https://digitalskillsglobal.com/blog/understanding-the-digital-skills-gap-and-the-opportunities-it-presents

2. http://www.biskom.web.id/2020/06/16/hadapi-tantangan-digital-skills-gap-kominfo-gelar-digital-talent-scholarship-2020.bwi

3. https://www.weforum.org/agenda/2019/03/the-digital-skills-gap-is-widening-fast-heres-how-to-bridge-it/