Film Inklusi Sejauh Ku Melangkah Ajak Masyarakat Rangkul Disabilitas



“Disabilitas tidak ingin dikasihani, namun ingin diakui keberadaannya. Kita ubah stigma menjadi kesetaraan, kita harus berjuang untuk inklusivitas”, ujar Taufik Zulfikri dalam acara New Year Gathering 2021. Dari sebuah film inklusi Sejauh Ku Melangkah kita bisa belajar bagaimana cara merangkul Disabilitas. Dan juga menyuarakan aksesibilitas, pendidikan, dan kesempatan yang sama terhadap para penyandang Disabilitas.

Sebuah film inklusi yang menceritakan tentang sosok Disabilitas di dua dunia yang berbeda mengajak masyarakat untuk mengenal lebih dekat tentang dunia Disabilitas. Film dengan judul “Sejauh Ku Melangkah” ini, mengangkat sosok persahabatan dua Disabilitas Netra yang sedang menempuh pendidikan. Dua tokoh tersebut bernama Andrea dan Syalsabila yang sudah berteman sejak mereka duduk di bangku taman kanak-kanak.

Film yang disutradarai oleh Uci Agustin telah meraih beberapa penghargaan salah satunya adalah Piala Citra tahun 2019 untuk kategori film dokumenter pendek terbaik.

Melalui sesi diskusi setelah acara nonton bareng film inklusi di New Year Gathering 2021 yang diselenggarakan Rabu, 20 Januari 2021 lalu, Uci Agustin menjelaskan suka dan duka dalam proses pembuatan film di 2 negara yang berbeda. Awal sebelum membuat film, Uci belajar bahasa Inggris dan bertemu dengan Mama Dea. Ia mengenal Dea di sebuah perkebunan, pada saat menjelang musim dingin. Sebelum pandemi, Uci Agustin juga bertemu Syalsabila di Jakarta secara langsung.

Setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pratama (SMP), Syalsabila yang biasa di panggil Salsa melanjutkan pendidikan SMA di Jakarta. Meskipun tinggal di Bekasi, ia ingin hidup mandiri dengan keterbatasan penglihatan yang dialaminya, dan memilih tinggal di asrama. Syalsabila mendapatkan rekomendasi untuk bersekolah di SMA 54 Jakarta, Cawang, Jakarta Timur. SMA 54 Jakarta merupakan salah satu sekolah yang inklusif. Sekolah tersebut menerima siswa Disabilitas dan Nondisabilitas. Walaupun masih belum banyak siswa Disabilitas Netra yang bersekolah di SMA 54 Jakarta.

Dalam acara New Year Gathering 2021 nonton bareng film inklusi, Salsa menyampaikan bahwa salah satu yang mendorong dirinya untuk masuk sekolah inklusif adalah neneknya. Nenek Salsa sudah meninggal sejak Salsa duduk di bangku sekolah dasar (SD). Kedua orang tua Salsa juga memiliki keterbatasan penglihatan. Selain itu, Andrea yang biasa dipanggil Dea juga menyampaikan bagaimana akhirnya dia bisa tinggal dan bersekolah di Amerika. Dea sendiri menyelesaikan pendidikan khusus Disabilitas Netra di Amerika Serikat. Karena ia mengikuti Mamanya yang mendapatkan pekerjaan di negeri Paman Sam. Meskipun terpisah dengan jarak yang sangat jauh Dea tetap menjalin persahabatan dengan Salsa.

Dalam sesi diskusi melalui Zoom, Andrea juga bercerita tentang pengalamannya sebagai Disabilitas Netra dan aksesibilitas di Virginia, Amerika Serikat. Dea mengatakan di Amerika Serikat sudah ada undang-undang yang mewajibkan semua gedung memiliki akses untuk teman-teman Disabilitas Netra seperti lift khusus, huruf Braille, dan akomodasi yang sangat diperlukan untuk teman-teman Disabilitas.

Sebagai Sutradara film Sejauh Ku Melangkah, Uci Agustin mengatakan sudah ada judul Menggapai Bintang yang merupakan lanjutan dari film Sejauh Ku Melangkah, namun dikarenakan kondisi pandemi, proses pembuatan film tersebut tidak bisa dilakukan di Indonesia. Sebagai pembuat film, Uci juga memiliki berbagai tantangan, salah satunya adalah keuangan yang cukup morat marit.(RYR/NNK)