Inovasi Inklusif: Masker Transparan untuk Komunitas Tuli

Bencana pandemik Coronavirus Disease-19 (COVID-19) membuat banyak negara yang menerapkan kebijakan dari WHO World Health Organization (Badan Kesehatan Dunia), seperti physical distancing, lockdown, dan social distancing. Tujuannya adalah untuk memutuskan rantai penyebaran COVID-19. Di Indonesia, pemerintah sudah menetapkan kebijakan physical distancing dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), serta kewajiban penggunaan masker.


Sejak pandemik COVID-19 mewabah, masker adalah salah satu barang yang paling banyak dicari orang untuk melindungi diri saat beraktivitas di tengah pandemik. Meskipun demikian, masker menutup seluruh area mulut dan hidung sehingga menyulitkan penyandang disabilitas Tuli berkomunikasi. Penyandang disabilitas Tuli biasanya berkomunikasi dengan bahasa isyarat, tulisan, ataupun membaca gerakan bibir yang terbuka dan jelas.


Ashley Lawrence menggunakan masker transparan (Sumber: Facebook Ashley Lawrence)

Ashley Lawrence, seorang mahasiswi Eastern Kentucky Univeristy di Amerika Serikat, tercetus untuk membuat masker yang membantu disabilitas Tuli. Mahasiswi jurusan pendidikan disabilitas Tuli ini merancang masker yang transparan di bagian mulut. Tujuannya agar penyandang disabilitas Tuli tetap bisa membaca gerak bibir lawan bicaranya. Berbagai pihak memberikan respon positif terhadap pembuatan masker transparan ini, baik dari komunitas Tuli maupun tenaga kesehatan.



Inovasi masker transparan juga ada di Indonesia. Ketua GERKATIN DPC Makassar, Faizah Badaruddin, juga turut berkontribusi menyebarkan inovasi inklusif ini. Ia membuat video tutorial membuat masker transparan untuk penyandang disabilitas Tuli. Teman Inklusi yang tinggal di Makassar dan sekitarnya bisa membeli masker ini langsung ke Faizah dengan menghubungi +6288242027914.