Muhammad Andika Panji, Pemain Timnas Sepak Bola dan Futsal Tuli Indonesia

(Dis)Abilitas tidak menjadi penghalang untuk berprestasi dan mengejar mimpi. Itulah yang saat ini diperjuangkan Muhammad Andika Panji. Ia adalah seorang mahasiswa Tuli/disabilitas rungu yang saat ini sedang menempuh studi hukum. Panji juga tergabung dalam Tim Nasional Sepak Bola dan Futsal Tuli Indonesia.

Hai, Panji! Beberapa Teman Inklusi mungkin masih asing dengan nama kamu. Boleh ceritakan tentang diri kamu?

Nama saya Muhammad Andika Panji, asal Jakarta. Berstatus mahasiswa Tuli Total fakultas Hukum semester 6 dan Founder Deaf-HoH Law & Advocacy Center yang sebentar lagi akan didirikan.


Apa yang membuat Panji bergabung Timnas Sepak Bola dan Futsal Tuli Indonesia?

Saya bermain untuk Timnas Sepak Bola dan Futsal Tuli Indonesia karena bola itu adalah sahabat saya. Untuk semua orang yang menyukai olah raga bola, bola bisa membuat Anda menikmati kehidupan yang positif, terus menambah pertemanan baru. Lebih hebat lagi, jadikan bola sebagai bagian dari diri sehingga Anda bisa mengontrol arahnya.

Saya masuk Timnas Sepak Bola dan Futsal Tuli Indonesia untuk membuktikan bahwa kita mampu meraih prestasi di setiap turnamen mancanegara. Saya ingin menunjukkan kepada semua orang Indonesia, termasuk pemerintah (PSSI & Kemenpora), masyarakat Kaum Tuli, keluarga, dan ingin mengajak generasi muda Tuli Indonesia terus berkembang dalam olahraga sepak bola dan futsal.


Kenapa Panji memilih olahraga sepak bola?

Sejak kecil, saya sering main bola di pinggir sungai bersama teman-teman, lalu Ibu melihat saya bermain. Saat kelas 5 SD (tahun 2000), Ibu membawa saya masuk les sepak bola di Generasi Muda Cendrawasih. Itu membuat saya semakin menyukai hingga mencintai sepak bola.

Sudah saya coba bermain basket, voli, bulu tangkis, dan lain-lain. Saya lebih menyukai sepak bola karena sepak bola itu lebih komplet, bisa nendang, bisa tanduk kepala, bisa lari jauh, bisa dribbling.

Beberapa waktu yang lalu, Panji bersama Timnas Sepak Bola dan Futsal Tuli mengharumkan nama Indonesia di ASEAN Deaf Football Championship 2016. Apa harapan untuk sepak bola Tuli di masa depan?

Harapan saya, pemerintah maupun perusahaan swasta terus mendukung dan memberi fasilitas olah raga yang lengkap untuk Timnas Tuli. Untuk masyarakat Tuli Indonesia yang menyukai sepak bola atau futsal, teruslah berkembang di bidang sepak bola demi masa depan sepak bola Tuli Indonesia. Jangan menyerah dan terus berjuang meraih prestasi untuk bangsa Indonesia demi Tuli mampu menunjuk prestasi luar biasa terhadap publik.


Selain bermain sepak bola, Panji juga sedang kuliah hukum. Kenapa Panji memilih belajar hukum?

Saya memilih belajar hukum karena hukum itu adalah pelindung terbaik bagi saya dan ingin belajar ilmu hukum lebih mendalam. Selain itu, saya juga ingin mewujudkan keadilan untuk masyarakat Tuli Indonesia yang dialaminya, seperti kebanyakan kasus diskriminasi dalam administrasi negara, pekerjaan, hak-haknya, serta kasus-kasus pidana maupun perdata. Saya ingin melindungi hak-hak milik kaum Tuli.


Panji juga seorang advokat Tuli. Apa harapan Panji ke depannya terkait advokasi Tuli/HoH/Disabilitas Rungu?

Harapan saya ingin mengajar teman-teman Tuli seluruh Indonesia melalui sosialisasi sebagai narasumber, mengajar advokasi dalam apapun, membuat peraturan-peraturan, dan lain-lain. Saya berharap masyarakat Tuli Indonesia akan lebih kuat dan lebih maju lagi dalam belajar hukum serta advokasi, terus berkembang SDM Hukum Tuli Indonesia hingga menjadi SETARA. Jika ada niat ambil jurusan hukum di kuliah, jangan menyerah dan serius belajar ilmu-ilmu hukum tersebut.


Menurut Panji, apa yang bisa memotivasi teman-teman disabilitas agar semangat dalam berkarya?

Percaya pasti bisa mengejar mimpi tanpa batas/mimpi yang mustahil. Terima hal yang mustahil, gagal dan kesalahan, kemudian belajar dari hal-hal itu. Kalahkan hal-hal yang mustahil karena disabilitas bukan berarti tidak mampu.


Selama ini, apa yang jadi hambatan dalam berkarya dan apa yang diperlukan untuk lebih berkembang?

Hambatanku adalah hak aksesbilitas (diskriminasi hak), yakni teks, JBI (Juru Bahasa Isyarat), typist dalam acara apapun, misal di TV, kuliah, fasilitas umum (rumah sakit, bank, restoran, sekolah, dan lain-lain). Aksesibilitas perlu ditingkatkan. Pemerintah wajib menghargai hak aksesibilitas bagi kaum Tuli/HoH/disabilitas rungu.


Apakah ada pesan yang ingin disampaikan untuk perusahaan atau organisasi yang belum berani berinteraksi dengan penyandang disabilitas?

1. Sapa dan bicara secara langsung dengan kontak mata. Hindari berbicara satu arah melalui orang lain, baik melalui penerjemah atau pendamping

2. Fokus kepada penyandang disabilitas yang diajak bicara, bukan pada kondisinya.

3. Bahasa tubuh yang ramah. Contohnya, usahakan bicara dalam posisi sejajar dan jangan dengan sengaja membelakanginya.

4. Jangan membuat penyandang disabilitas sebagai orang yang aneh.

5. Kenalilah kebutuhan spesifik penyandang disabilitas, misalnya disabilitas fisik membutuhkan kursi roda.

6. Jika merasa penyandang disabilitas membutuhkan bantuan, jangan ragu untuk menanyakan apakah dia butuh bantuan. Kemudian tanyakan bagaimana cara penyandang disabilitas ingin dibantu. Jangan malu atau diam saja. (RYR/SKS)


Interviewer: Ridho Yulio Rahmadino

Narasumber: Muhammad Andika Panji (@panjinatureza), Mahasiswa Tuli/HoH/Disabilitas Rungu Hukum & Pemain Timnas Sepak Bola dan Futsal Indonesia

KONTAK KAMI

KLOBILITY

Gedung Alamanda, Lantai 23 
Jalan TB. Simatupang, 
kav 23-24 - Jakarta 12430  Indonesia

T: +6221 - 29661919 

F: +6221 - 29661917

EMAIL

  • Twitter Social Icon
  • Facebook Social Icon
  • LinkedIn Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon